Pegadaian Kanwil II Pekanbaru Perkuat Ekosistem Bank Sampah melalui Konsolidasi FORSEPSI
RIAU24.COM - PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah II Pekanbaru memperkuat sinergi dan kolaborasi pengelolaan sampah berkelanjutan melalui kegiatan Konsolidasi Bank Sampah FORSEPSI (Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia) yang berlangsung pada 4–5 November 2026 di Cititel Hotel Pekanbaru. Kegiatan ini diikuti oleh 20 Bank Sampah Induk Binaan Pegadaian dari tiga provinsi, yakni Riau, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau.
Kegiatan konsolidasi ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat koordinasi antar-Bank Sampah, meningkatkan kapasitas pengelola, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra offtaker. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi dan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Kegiatan hari pertama secara resmi dibuka oleh Pemimpin Wilayah PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah II Pekanbaru yang diwakili oleh Deputi Bisnis, Satriya Bratawijaya. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa persoalan sampah perlu dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah apabila dikelola secara optimal.
"Kita semua memahami bahwa persoalan sampah bukan hanya persoalan kebersihan lingkungan. Lebih dari itu, sampah merupakan tantangan sekaligus peluang ekonomi yang apabila dikelola dengan baik, dapat memberikan nilai tambah dan manfaat nyata bagi masyarakat. Sampah yang selama ini sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak bernilai, sesungguhnya memiliki potensi ekonomi apabila dikelola melalui proses pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga pemasaran yang tepat.
Di sinilah peran strategis Bank Sampah. Bank Sampah bukan hanya menjadi tempat masyarakat mengumpulkan sampah, tetapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan, penggerak ekonomi masyarakat, serta bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular. Melalui Bank Sampah, kita mendorong perubahan pola pikir masyarakat, dari budaya membuang menjadi budaya memilah, dari sesuatu yang tidak bernilai menjadi sumber pendapatan, dan dari pola ekonomi linear menjadi ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan," ujar Satriya Bratawijaya.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan Bank Sampah memiliki peran penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Melalui penguatan kelembagaan dan kemitraan, Bank Sampah diharapkan mampu berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus penggerak aktivitas ekonomi produktif di tengah masyarakat.