Menu

Benar-benar Ngeri, Mayat-mayat Bermunculan di Mount Everest

Siswandi 23 Mar 2019, 17:00
Benda-benda mulai bermunculan saat es di Everest meleleh, termasuk mayat pendaki. Foto: int
Benda-benda mulai bermunculan saat es di Everest meleleh, termasuk mayat pendaki. Foto: int

RIAU24.COM -  Selain dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia, Everest juga bisa disebut sebagai 'makam tertinggi di dunia'. Sejauh ii, hampir 300 pendaki telah mati meregang nyawa di gunung itu. Dari jumlah itu, diperkirakan 2/3 mayat masih terkubur di bawah es.

Namun saat ini, mayat-mayat itu telah muncul kembali dari timbunan es. Kondisi ini terjadi sejak lapisan es di Everest mulai meleleh, akibat pemanasan global.

Kondisi itu dibenarkan Ang Tshering Sherpa, mantan presiden Nepal Mountaineering Association (NMA). "Karena pemanasan global, lapisan es mencair dengan cepat dan mayat-mayat yang sebelumnya terkubur selama bertahun-tahun kini mulai terlihat," ungkapnya.

Sejumlah studi memang sudah menunjukkan gletser di Everest, atau di hampir seluruh pegunungan Himalaya, tengah mencair dan menipis dengan cepat. Salah satunya terjadi pada kolam di areal Khumbu Glacier. Saat ini, kolam itu terus bertambah lebar, akibat proses melelehnya es.

Di kawasan ini pula, mayat-mayat pendaki yang sebelumnya tertimbun, mulai bermunculan. "Tapi kebanyakan pendaki sudah menyiapkan mentalnya untuk melihat pemandangan seperti itu ketika melintas," ungkap Vice President Nepal National Mountain Guides Association, Tshering Pandey Bhote, dilansir BBC, Sabtu 23 Maret 2019.


zxc2

Biaya Tinggi

Siapa sangka jika mengevakuasi mayat dari Everest ternyata butuh biaya tinggi. Sejumlah ahli menyebut biaya untuk menurunkan jasad-jasad itu berada di kisaran USD 40.000 (Rp 567 juta) hingga USD 80.000 (Rp 1,1 miliar). Jauh lebih tinggi dibanding biaya untuk pendakian. Dilansir detik, setiap pendaki menghabiskan biaya antara USD 30.000 hingga USD 130.000 agar bisa melakukan pendakian di gunung itu.

Selain mahal, memindahkan mayat dari gunung itu tentu sangat sulit.

"Salah satu evakuasi dengan tantangan terbesar adalah ketika melakukannya dari ketinggian 8.700 meter, dekat puncaknya. Jasadnya benar-benar beku dan bisa seberat 150 kilogram, dan itu harus dievakuasi dari tempat yang sulit di ketinggian tersebut" tambah Tshering.

Selain mahal dan sulit, urusan yang menyangkut mayat di Everest sejatinya sangat personal. "Kebanyakan pendaki lebih suka mayatnya ditinggal begitu saja di gunung jika mereka mati," ucap Alan Arnett, penulis yang fokus pada kegiatan pendakian.

Jika dipindah, itu sama saja artinya tidak menghargai si pendaki tersebut. Wah. ***