Menu

Hari Kesadaran Autisme se-Dunia, Anak Berkebutuhan Khusus Tampilkan Pertunjukan Seni

Ramadana 29 Apr 2019, 17:29
Peringatan Hari Kesadaran Autisme se-Dunia, sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) Okupasi Terapi (OT) XXV/rgo
Peringatan Hari Kesadaran Autisme se-Dunia, sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) Okupasi Terapi (OT) XXV/rgo

RIAU24.COM -  TEMBILAHAN -  Berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan oleh Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) turut memeriahkan pelaksanaan Seminar, dalam rangka peringatan Hari Kesadaran Autisme se-Dunia, sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) Okupasi Terapi (OT) XXV.

Dihadapan ratusan peserta seminar, yang terdiri dari orang tua ABK, Tenaga Kesehatan Pendamping Anak, Pemerhati Autis, Dosen, Mahasiswa dan umum, sejumlah ABK memperlihatkan bakat dan kebolehannya, baik itu dalam berpuisi, menyanyi, menari hingga memainkan alat musik drum.

Terlihat seluruh yang hadir sangat antusias dan kagum, menyaksikan berbagai pertunjukan seni yang disuguhkan ABK. Bahkan dari beberapa peserta, tampak mengusap air mata yang tanpa sadar menetes, karena tersentuh oleh penampilan para ABK.

Sesekali, tepuk tangan seluruh peserta juga menambah semarak kegiatan yang ditaja oleh Forum Komunikasi Anak Berkebutuhan Khusus (FKO-ABK) bekerjasama dengan Salimah Inhil di aula Top 5 Hotel Tembilahan, Minggu 28 April 2019 ini.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Inhil dalam sambutannya yang diwakili Ermiati menyatakan bahwa pendidikan adalah hak seluruh bangsa, termasuk ABK.

"Pendidikan merupakan tanggung jawab semua, mulai dari orang tua, satuan pendidikan hingga pemerintah. Karenanya, seluruh elemen harus turut bersama-sama dan berperan aktif," ujarnya.

Kemudian, kepada para orang tua yang memiliki ABK, Ermiati berpesan agar tidak merasa malu atau kurang, karena setiap ABK memiliki kelebihan tersendiri.

"Kita harus sungguh-sungguh mengarahkan dan membimbing mereka (ABK, red), sehingga mereka bisa tumbuh dengan baik seperti anak-anak lain," tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris FKO-ABK Inhil, Dwi Ambarwati menjelaskan, Hari Kepedulian terhadap Autisme yang diperingati pada tanggal 2 April setiap tahunnya ini, bertujuan mendorong negara anggota PBB untuk mengambil langkah dalam meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak dengan autisme di seluruh dunia.

Dengan begitu, diharapkan kepedulian di kalangan masyarakat terhadap autisme akan meningkat, seperti misalnya dengan melakukan diagnosis dini agar intervensi yang lebih cepat dapat dilakukan terhadap orang dengan autisme.

"Masyarakat juga diharapkan mengetahui dengan lebih mendalam mengenai latihan dan pendidikan yang dilalui oleh para pelajar autisme," katanya.

Untuk diketahui, dalam paparannya Dwi Ambarwati mengungkapkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan otak seseorang individu yang berkaitan dengan masalah hubungan sosial, masalah komunikasi, perubahan emosi, kurang kebolehan berimaginasi dan bermain.

Ada 3 gejala yang ditemukan pada autisme, yaitu hambatan perilaku, interaksi dan komunikasi. Dimana, anak autisme sering melakukan gerakan berulang, tidak suka aktivitas bersama dan terlambat bicara atau tidak bisa sama sekali, sehingga perlu dilakukan terapi atau latihan untuk mengurangi gejala-gejala yang ada supaya mereka bisa hidup seperti anak yang lain di lingkungannya.

Selain kepedulian dari masyarakat, lanjut Dwi Ambarwati, juga dibutuhkan keterlibatan dari instansi terkait, seperti dinas kesehatan, dinas pendidikan, dinas sosial dan badan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, untuk membantu penyandang autisme memenuhi kebutuhannya di bidang kesehatan, pendidikan dan bermasyarakat.

"Jadi, selain Sekolah Luar Biasa (SLB), adanya sekolah inklusi juga akan sangat membantu anak autisme mendapatkan pendidikan. Meskipun, sistem pembelajaran di sekolah inklusi belum semua bisa mengakomodasi kebutuhan ABK," imbuhnya.***


R24/phi/rgo