Menu

Sudah Berumur 1,5 Abad, Surau Tertua di Padang Ini Masih Eksentrik dan Gagah

Siswandi 20 May 2019, 11:47
Suratu Tarok yang diyakini sebagau surau tertua di Padang, hingga kini masih berdiri gagah dengan segala keeksentrikannya. Foto: int
Suratu Tarok yang diyakini sebagau surau tertua di Padang, hingga kini masih berdiri gagah dengan segala keeksentrikannya. Foto: int

RIAU24.COM Surau Tarok yang berada di Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, hingga saat ini masih berdiri dengan gagah. Surau ini memilki sejarah yang panjang di Sumatera Barat, karena bangunan yang terbuat dari kayu ini seolah ikut menjadi saksi tentang perkembangan Islam di Sumbar, khususnya Kota Padang.

Saat ini, Surau Tarok sudah berusia 1,5 abad. Bangunannya mirip dengan dengan rumah gadang, yang tak lain adalah rumah adat Minangkabau. Di sepanjang dinding luarnya, tampak dihiasi berbagai macam ukiran adat Minangkabau.

Sama halnya dengan bangunan-bangunan lama di Sumbar, Surau Tarok dibangun menggunakan sistem pasak, tanpa menggunakan paku . Tak hanya itu, Surau Tarok juga diyakini sebagai surau tertua, bahkan, diklaim sebagai pusat penyebaran Islam tertua di Padang.

Di Minangkabau, keberadaan sebuah Surau tidak hanya tempat ibadah namun juga sarana pendidikan karakter untuk nagari (desa) yang dikemas melalui berbagai macam kegiatan. Seni bela diri silat, salah satunya.

Seperti dituturkan Idrul Aswad,  pengurus Surau Tarok, banguna itu diperkirakan berdiri sejak tahun 1872. Berdiri di atas lahan seluas 500 meter persegi dengan sistem pasak tanpa paku dan menyerupai rumah gadang. Surau Tarok juga sering digunakan sebagai tempat kerapatan adat dan tempat berlatih silat anak nagari Kecamatan Kuranji.

  "Agar bangunan tetap kokoh, pada bagian bawah lantai surau dilakukan pengerasan agar bisa mengalasi lantai kayu surau yang semakin lama semakin lapuk termakan usia," terangnya, dilansir viva.

Tiang Bengkok
Salah satu keunikan bangunan Surau Tarok, adalah terkait dengan tiang penyangga. Sebab, semua kayu pilar penyangga yang berjumlah 12 batang, kondisinya bengkok. Para pembangun surau itu dahulu, konon, memang sengaja memilih batang kayu yang bengkok.

Tak sekedar itu, penggunaan kayu bengkok itu juga memperlihatkan sang perancang surau mengaplikasikan falsafah hidup orang Minangkabau, “alam takambang jadi guru”, segala sesuatu yang terdapat di alam semesta. Seluruh tiang penyangga diambil dari batang pohon utuh jenis kayu Laban. ***