Menu

Batal Berperang Dengan Iran, Trump Pilih Hubungi Putra Mahkota Arab Saudi

Riko 22 Jun 2019, 15:08
Foto (internet)
Foto (internet)

RIAU24.COM -  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump menghubingi Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) untuk membahas perilaku Iran. Kontak telepon itu terjadi  beberapa jam setelah pemimpin Amerika itu membatalkan serangan terhadap Iran.

Wakil juru bicara Gedung Putih Hogan Gidley mengatakan kedua pemimpin negara itu akan bertemu pada hari Jumat membahas perihal ancaman yang ditimbulkan oleh perilaku eskalasi rezim Iran. "Dan peran penting Arab Saudi dalam memastikan stabilitas di Timur Tengah dan pasar minyak dunia," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Sindonews mengutip The Hill, Sabtu 22 Juni 2019.

Sebelumnya rencana perang melawan Iran dipicu militer Iran dengan sistem rudalnya telah menembak jatuh pesawat nirawak mata-mata Angkatan Laut AS, RQ-4 Global Hawk, pada Kamis waktu Teheran. 

Persitegangan kedua pihak itu muncul dan berbeda pendapat soal lokasi penerbangan pesawat nirawak itu sebagai dasar boleh tidaknya ditembak jatuh.

Teheran mengatakan pesawat itu terbang di atas wilayah udara Iran. Sedangkan AS bersikeras pesawatnya berada di wilayah udara internasional di atas Selat Hormuz.

Trump awalnya memberi izin kepada militer AS untuk menyerang tiga target di Iran sebagai pembalasan atas penembakan pesawatnya. Namun dia tiba-tiba membatalkan serangan hanya sekitar sepuluh menit menjelang serangan dimulai. Alasan serangan dibatalkan karena perkiraan jumlah korban jiwa sekitar 150 orang.

"Kami membidikkan dan memuat (senjata) untuk membalas semalam terhadap tiga sasaran yang berbeda ketika saya bertanya; 'berapa banyak yang akan mati?. '150 orang, tuan', itu adalah jawaban dari seorang jenderal," tulis Trump di Twitter."Sepuluh menit sebelum serangan, saya menghentikannya, tidak sebanding dengan menembak jatuh pesawat tanpa awak."

Harga minyak dunia dikhawatirkan akan merangkak naik seiring dengan perseteruan antara AS dan Iran yang terus memanas.

Arab Saudi telah menjadi sekutu penting AS di Timur Tengah. Namun, hubungan kedua negara itu sedang diuji setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul tahun lalu.