Khawatir Kasus Penikaman Syekh Ali Jaber Diusut Ala Kadarnya, Din Syamsuddin Desak Jokowi dan Kapolri Turun Tangan

Selasa, 15 September 2020 | 09:47 WIB
Din Syamsudin Din Syamsudin

RIAU24.COM -  Nama besar Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia akan tercoreng jika kasus penikaman terhadap ulama ternama, Syekh Ali Jaber hanya ditangani ala kadarnya. Kasus ini harus diusut secara serius agar tidak terulang kembali.

Atas alasan itu, Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Din Syamsuddin meminta Kapolri Jenderal Idham Aziz dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk turun langsung.

Baca Juga: Dipanggil Erick, Ini Hal yang Harus Dilakukan Ahok Untuk Selesaikan Masalah di Pertamina

Din menjelaskan bahwa bobot dari kasus ini berdimensi luas karena mengenai figur ulama atau tokoh Islam. “Maka kami mengharapkan kepada Bapak Kapolri Jenderal Idham Aziz, dan juga Bapak Presiden Joko Widodo untuk turun tangan mengatasinya," ujarnya kepada wartawan, Selasa (15/9). 

Mantan ketua umum PP Muhammadiyah ini mengatakan, tindakan kekerasan yang dialami Syekh Ali Jaber merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh Islam. Karena itu harus segera diusut tuntas hingga ke akar-akarnya serta membongkar motif penikaman tersebut. 

"Kami meyakini bahwa tindakan penikaman itu adalah bentuk kriminalisasi terhadap ulama/tokoh Islam, dan dirasakan merupakan bagian dari skenario terorisasi terhadap ulama dan tokoh Islam. Oleh karena itu, kami meminta Polri bersungguh-sungguh menegakkan keadilan hukum," imbuhnya.

Baca Juga: Blak-blakan, Ridwan Kamil Akui Mustahil Menangkan Kesehatan dan Ekonomi Lawan Covid-19: Saat Ini Kepemimpinan Diuji

Lebih lanjut, Din mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya umat Islam agar menahan diri dan tidak melakukan tindakan di luar koridor hukum.

"Menyerukan kepada umat Islam untuk tetap tenang dan menahan diri serta tidak terhasut untuk melakukan tindakan yang melanggarkan hukum," demikian deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) itu.***

PenulisR24/saut



Loading...
Loading...