Menu

Sarjana Ternyata Punya Kecemasan Lebih Tentang Kehidupan Ketimbang yang Tidak Kuliah

Riki Ariyanto 10 Dec 2020, 13:27
Sarjana Ternyata Punya Kecemasan Lebih Tentang Kehidupan Ketimbang yang Tidak Kuliah (foto/int)
Sarjana Ternyata Punya Kecemasan Lebih Tentang Kehidupan Ketimbang yang Tidak Kuliah (foto/int)

RIAU24.COM -  Satu penelitian menunjukkan kalau seorang sarjana belum tentu lebih bahagia dari pemuda yang tidak lanjutkan ke perguruam tinggi. Penelitian tersebut dibuatbadan publik di luar Departemen Pendidikan, Office for Students yang berbasis di Inggris.

Dilansir dari Okezone, Badan Statistik Pendidikan Tinggi tersebut lakukan survei lebih dari 215 ribu lulusan selama 15 bulan. Tepatnya ketika mereka menuntaskan gelar sarjana atau pascasarjana.

zxc1

Hasilnya populasi umum dengan skor tingkat kecemasan sangat rendah mencapai 40,9 persen. Di antaranya sarjana yang berhasil mendapatkan pekerjaan penuh waktu cuma 27,5 persen yang memiliki skor kecemasan rendah.

Tetapi, 32,6 persen dari lulusan pekerjaan penuh waktu itu meraih skor sangat tinggi untuk perasaan apa yang mereka lakukan dalam hidup itu bermanfaat. Sementara proporsinya adalah 36,1 persen responden pada populasi umum.

Dari penelitian ini diketahui lulusan kulit hitam punya proporsi skor kebahagiaan sangat tinggi, disusul lulusan Asia dan kulit putih.

zxc2

Kemudian diketahui bahwa sarjana lebih cemas ketimbang rekan-rekan mereka yang tidak kuliah. Kemudian mereka yang menganggur melaporkan tingkat ketidakpuasan tertinggi pada kehidupan mereka.

Untuk hal kebahagiaan, semua sarjana cenderung tidak mendapat skor yang sangat tinggi kalau dibandingkan dengan populasi umum.

Meski sarjana perempuan merasa jika mereka melakukan hal-hal yang lebih berharga dalam hidup mereka ketimbang yang laki-laki. Hanya saja mereka juga tercatat lebih cemas. Data terbaru juga menunjukkan kalau perempuan ada kecenderungan penghasilannya lebih rendah.

Penelitian itu turut menemukan lulusan yang lebih tua cenderung tak merasakan ketidakpuasan dengan kehidupan. Umumnya lebih bahagia ketimbang rekan yang masih muda.

Selanjutnya mereka yang belajar paruh waktu di perguruan tinggi turur memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak.

“Pendidikan tinggi dapat memiliki dampak transformasional dan banyak lulusan yang memiliki kehidupan dan karier yang memuaskan,” sebut The Office for Students pada The Times.

“Ada berbagai faktor yang memengaruhi jalur yang diambil lulusan dan memengaruhi perasaan sejahtera mereka. Penting jika universitas dan perguruan tinggi mempersiapkan siswanya untuk dunia kerja, menyadari tantangan yang dihadapi lulusan di pasar tenaga kerja saat ini,” ujarnya.

Disebut data tersebut bakal berguna untuk memastikan semua siswa, dari mana pun asalnya untuk punya pengalaman pendidikan tinggi yang memperkaya kehidupan serta karier pekerjaan.