Menu

Ketimbang Sinovac, Fadli Zon Percaya Vaksin ini Lebih Manjur Atasi Covid-19 di Indonesia

Siswandi 15 Dec 2020, 17:34
Fadli Zon
Fadli Zon

RIAU24.COM -  Politikus Gerindra, Fadli Zon ikut angkat suara terkait penyediaan vaksin Covid-19 di Tanah Air. Menurutnya, vaksin buatan Amerika Serikat, Pfizer lebih manjur dalam menangani pandemi di Indonesia, ketimbang menggunakan Sinovac, vaksin produksi China. 

Seperti diketahui, sejauh ini pemerintah Indonesia telah membeli vaksin Sinovac yang merupakan buatan perusahaan biofarmasi asal China, Sinovac Biotech. 

Namun ada juga yang menilai, vaksin buatan Pfizer, perusahaan asal Amerika Serikat, lebih baik mutunya. Untuk diketahui, vaksini ini juga yang dibeli pemerintah Singapura untuk disuntikkan gratis kepada warganya.

“Secara scientific, saya lebih percaya vaksin Pfizer yang akan diberikan gratis pada warga Singapura ketimbang Sinovac yang masuk Indonesia tapi belum jelas keamanan dan keampuhannya,” tulis Fadli di akun Twitter @fadlizon yang dikutip pada Selasa, 15 Desember 20220.

Dilansir viva, Pemerintah RI, melalui Kementerian Kesehatan, telah mengumumkan enam vaksin COVID-19 yang bisa masuk ke Indonesia. Hal itu dilontarkan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR pekan lalu.

“Menetapkan vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Pfizer Inc and BioNTech, dan Sinovac Biotech Ltd, sebagai jenis vaksin COVID-19 yang dapat digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi di Indonesia," lontarnya ketika itu. 

Saat ini, semua vaksin yang ada dalam daftar itu statusnya masih dalam tahap uji klinis fase ketiga. Bahkan, ada juga yang sudah selesai menjalani proses itu.

Terawan mengatakan, penggunaan vaksin untuk pencegahan penyebaran pandemi hanya bisa dilakukan setelah mendapatkan izin edar atau persetujuan penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Namun tidak tertutup kemungkinan akan ada jenis vaksin COVID-19 lain yang bisa masuk ke Indonesia, bila ada ada rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional. ***