Menu

Laporan Airlangga ke Prabowo Jadi Sorotan, Sebut Ekonomi Bertumbuh 5,45 persen -Manufaktur Ekspansif!

Zuratul • 3 Nov 2026, 12:05
Menteri Ekonomi dari Kebinet Merah Putih melaporkan perkembangan terbaru soal kondisi ekonomi makro Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Sekretariat Kepresidenan)
Menteri Ekonomi dari Kebinet Merah Putih melaporkan perkembangan terbaru soal kondisi ekonomi makro Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Sekretariat Kepresidenan)

RIAU24.COM - Menteri Ekonomi dari Kebinet Merah Putih melaporkan perkmebangan terbaru soal kondisi ekonomi makro Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto. 

Lewat Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengungkapkan sejumlah indikator menunjukkan ekonomi nasional masih menuju arah yang positif. 

Hal ini ia ungkapkan usai melaksanakan rapat terbatas di Istana Negara, Senin (2/11/2026).

Selain Airlangga, ada juga Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Wamen ESDM Yuliot Tanjung, hingga CEO Danantara Rosan Roeslani, dan Direktur Utama PT Pertamian (Persero) Simon Aloysius Mantiri. 

Airlangga menjabarkan bahwa Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia mencapai level ekspansi di angka 5,4 meningkat dari bulan sebelumnya 5,24. Hal ini menurutnya adanya penguatan ekspansi sektor manufaktur.

"Dan level ekspansinya ini terkuat sejak Maret lalu, Maret 2024. Jadi ini level ekspansi yang tinggi," katanya.

Dari sisi perdagangan, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan pada September 2026 sebesar US$3,36 miliar. Capaian itu ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar US$5,67 miliar, meskipun adanya defisit perdagangan migas US$2,31 miliar.

"Dari Januari - September 2026 ini, surplusnya neraca perdagangan kita US$10,61 miliar, dipicu oleh surplus non-migas sebesar US$34,21 miliar walaupun defisit migas mencapai US$23,6 miliar," katanya.

Ekspor nasional juga mencatatkan pertumbuhan positif. Jadi Januari - September total ekspor mencapai US$221,23 miliar, naik 5,58% jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sedangkan perdagangan non migas pada periode yang sama tercatat US$212,27 miliar.

Dari tingkat inflasi, pada Oktober tercatat mencapai 3,23% secara tahunan (yoy) dan 0,22% secara bulanan. Sedangkan inflasi secara year to date mencapai 2,4%.

Inflasi disebabkan harga volatile food, makanan minuman, cabai rawit, ikan segar, hingga inflasi di bidang transportasi. Namun Airlangga tidak khawatir dengan capaian inflasi Oktober ini.

"Dari segi inflasi sendiri core inflation-nya hanya 2,56%, administer price yang memang tinggi 3,24% dan volatile food 5,81%. Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," tutup Airlangga.

(zar)