Menu

Seperti Ini Debat Capres Cawapres yang Ideal dalam Pandangan Islam

Siswandi 19 Feb 2019, 15:31
Ilustrasi
Ilustrasi

RIAU24.COM -  Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Ahmad Satori Ismail, mengatakan, Islam tak mempermasalahkan adanya debat calon presiden dan wakil presiden. Sebab dalam Islam, dalam memilih seorang pemimpin, harus jelas orangnya, visi-misinya dan juga kehidupannya.

"Kejujurannya, semua aspeknya. Jadi itu dipilih setelah jelas kehidupannya. Abu Bakar (Sahabat Rasulullah, khulafaurrasyidin yang pertama, red) dipilih setelah kaum muslim tahu bahwa dari sisi apa pun, beliau adalah orang paling hebat setelah Rasulullah, dari sisi kejujurannya luar biasa, sidiq, amanah, fathanah dimilikinya," terangnya, Selasa 19 Februari 2019.

Satori menilai, debat antara kandidat calon presiden dan calon wakil presiden, diperlukan dalam rangka penyampaian visi-misi. Termasuk menonjolkan apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan.

Namun yang dimaksud dengan debat di sini adalah, bukanlah debat yang saling menjelek-jelekkan.

"Kalau debat menyerang itu biasanya orang yang menyerang itu tidak punya kemampuan sehingga menyerang lawan debatnya," ujarnya, dilansir republika.

Menurutnya, bila seorang kandidat mampu dan menganggap dirinya layak untuk dipilih rakyat, maka cukup sampaikan kepada rakyat.

Namun begitu pula sebaliknya, rakyat pun harus mengetahui dan mengenal lebih jauh pemimpinnya sehingga jangan sampai memilih tanpa mengetahui visi-misinya.

"Dalam debat, cukup membalas dengan cara yang lebih baik. Jadi bagus sekali kalau ada orang dijelekkan kemudian tidak membalas. Tenang saja, santai, sebenarnya itu. Kita pun sebagai dai kalau ada yang mengajak debat, ya secukupnya saja. Kalau tidak diperlukan ya tak perlu berdebat," ujarnya lagi.

Sebab menurut Satori, debat Pilpres ini pada hakekatnya bukanlah debat antarcapres yang harus sampai mengeluarkan argumen terkuatnya. Tetapi lebih kepada penyampaian visi-misi terkait bagaimana pandangannya dalam menyelesaikan persoalan. Dengan begitu, rakyat melalui forum debat bisa mencaritahu apakah data-data yang disampaikan capres-cawapres itu benar atau bohong.

Debat Kusir

Lebih jauh, Satori menambahkan, dalam Islam, yang tidak diperbolehkan adalah debat kusir. Bahkan jika dalam kondisi haji, maka debat kusur tersebut bisa merusak ibadah hajinya.

"Kalau debatnya debat kusir itu memang tidak diperbolehkan dalam Alquran. Bahkan kalau di dalam haji itu bisa merusak ibadah hajinya. Kita diperintah untuk tidak saling berbantah-bantahan yang membuat perpecahan," ucapnya.

Menurutnya, ketika kandidat capres-cawapres menyampaikan sesuatu, tentunya akan dicatat dan diingat umat dan rakyat, bahkan oleh malaikat Raqib dan Atid.
Saat yang bersangkutan mendapat amanat dari rakyat untuk menjadi presiden dan wakil presiden, kemudian berkhianat atau tidak melakukan janji-janjinya, maka jelas ancamannya adalah neraka.

"Dalam Islam, hakekatnya, ketika sudah berjanji melakukan sesuatu, misalnya A, B, C, D, kalau dilanggar ya sudah. Artinya itu urusannya dengan Allah SWT," tutupnya. ***