Menu

Pacul Pun Diimpor, Ternyata Kondisi Bangsa Saat Ini Pernah Diramal Pak Harto 25 Tahun Lalu, Begini Isinya

Siswandi 10 Dec 2019, 09:06
Pak Harto
Pak Harto

RIAU24.COM -  Saat ini, berbagai produk dari luar negeri terus membanjiri Indonesia. Hal ini pun sempat menjadi perhatian serius Presiden Jokowi. Khususnya ketika Presiden mengetahui Indonesia ternyata juga mendatangkan pacul alias cangkul dari luar negeri. Ketika itu, Presiden Jokowi pun menyampaikan rasa prihatinnya. 

Ternyata, kondisi yang terjadi saat ini perna diramal mantan Presiden Soeharto. Hal itu disampaikannya saat berbicara pada acara Pencanangan Gerakan Nasional (Gernas) Pelestarian Nilai Kepahlawanan di Surabaya, Jawa Timur, 23 November 1995 silam.

Dilansir viva  yang mengutip akun YouTube HM Soeharto, Selasa 10 Desember 2019, ketika itu pria yang akrab disapa Pak Harto ini mengingatkan, anak-anak dan remaja harus disiapkan untuk mencintai produk dalam negeri. 

"Dalam menghadapi globalisasi yang sekarang, kita akan melakukan liberalisasi daripada perdagangan-perdagangan bebas untuk negara berkembang. Tahun 2020 atau 25 tahun lagi. Anak-anak yang nantinya berumur 25 tahun. Artinya anak-anak usia remaja sekarang. Mereka harus disiapkan untuk mencintai Tanah Airnya. Mencintai produk dalam negeri," lontarnyaketika itu. 

Dalam kesempatan itu, Pak Harto juga sempat mengingatkan kekhawatirannya dalam menghadapi globalisasi kelak. Menurutnya, apabila remaja terlena dengan produk-produk asing, akan berdampak buruk bagi keberlangsungan kehidupan bangsa Indonesia.

Tak hanya itu, Soeharto seolah mampu meramalkan kaum muda Indonesia di masa depan bakal lebih menyukai produk asing lantaran dibanderol dengan harga yang lebih murah.

"Kalau para pemuda kesengsem dengan produk yang murah dan bagus tapi hasil dari luar negeri. Maka hancur daripada bangsanya. Kenapa? karena produknya (dalam negeri) tidak ada yang membeli. Pabrik tutup, lantas tidak bisa bekerja, tidak bisa makan. Inilah yang harusnya kita persiapkan," tegas Soeharto.

Karena itu, untuk menyelamatkan nasib bangsa, maka Indonesia harus mempersiapkan segalanya. Salah satunya pendidikan. Hal ini agar bangsa Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

"(Dari) Pendidikan, lebih-lebih perguruan tinggi, harus mampu mempersiapkan. Bukan kita curang. Tidak. Kita menyelamatkan negara. Kita harus meningkatkan daya saing (lebih) tinggi. Dan pasti kita dapat. Senjatanya adalah mulai sekarang, nasionalisme, mencintai Tanah Air, mencintai produk-produk dalam negeri," ujarnya lagi. ***