Menu

Ini Kemampuan Yang Harus DImiliki Kalau Mau Jadi Humas Profesional di Era Disrupsi

Satria Utama 17 Dec 2019, 12:03
Konvensi Nasional Humas 2019
Konvensi Nasional Humas 2019

RIAU24.COM -  Di era revolusi industri 4.0, para praktisi humas dituntut memiliki kompetensi baru yang selaras dengan kemajuan teknologi informasi. Hal ini karena terjadi perubahan gaya hidup masyarakat dalam mengonsumsi informasi dan merespon isu yang berkembang.

Menurut Dr. Nurlela Arief, Director Communication & Alumni Relation ITB, jika dulu praktisi Humas cukup hanya memiliki kemampuan komunikasi dan media relation, namun sekarang harus memiliki skill tambahan, seperti Data Analitic, Influencer,Content Creator, dan Social Media Strategy.

"Masyarakat saat ini sudah terkoneksi dengan media sosial. Mereka dengan cepat mendapatkan informasi dan dipengaruhi oleh hal-hal yang muncul di media sosial," ujarnya saat tampil sebagai pembicara di Konvensi Nasional Humas 2019 di Hotel Sahid, Yogyakarta, Selasa (17/12/2019).

Dicontohkan Nurlela, kemampuan data analitic sangat diperlukan saat dunia korporasi saat ini sudah menggunakan big data dalam mengambil sejumlah kebijakan perusahaan. "Untuk itu Humas harus juga memiliki kemampuan bagaimana memahami data yang diperoleh atau dikelola Tim IT. Tak hanya itu, Humas juga harus memiliki kemampuan selanjutnya, yaitu bagaimana mengomunikasikan data anaytic menjadi paparan yang mudah dimengerti pimpinan," jelasnya.

Demikian juga dengan kemampuan content creator, influencer serta social media strategy, menurut Nuerlela, sangat penting dikuasai karena saat ini 92 persen orang percaya dengan testimoni yang disampaikan orang lain.

"Jadi selain harus mampu membuat konten yang kreatif, juga harus disampaikan orang lain yang memberikan testimoni hal-hal baik tentang perusahaan. Namun yang harus diingat, influencer yang digunakan harus relevan dengan karakteristik perusahaan," ungkapnya.

Sementara itu, Nila Marita, Chief Corporate Affairs Gojek, memaparkan, di era disrupsi seperti saat ini, Humas harus mampu membangun keterikatan (engagement) yang baik dengan konsumen. Ia mencontohkan bagaimana Gojek memberikan laporan aktivitas penggunaan Gojek selama setahun kepada setiap konsumennya.

"Setiap awal tahun, konsumen Gojek kita kirimkan laporan berapa kali mereka menggunakan gojek, berapa jauh mereka jalan bersama Gojek, lalu kita beri nilai, seperti rapor. Ini akan membuat konsumen merasa senang karena diperhatikan secara maksimal oleh Gojek," kata Nila.**