Menu

TAHUKAH ANDA : Inilah 3 Fakta COVID-19 Paling Bermutasi di Dunia yang Ditemukan di RI

Devi 31 Jul 2023, 08:55
TAHUKAH ANDA : Inilah 3 Fakta COVID-19 Paling Bermutasi di Dunia yang Ditemukan di RI
TAHUKAH ANDA : Inilah 3 Fakta COVID-19 Paling Bermutasi di Dunia yang Ditemukan di RI

RIAU24.COM - Meski statusnya tidak lagi darurat, Indonesia masih belum sepenuhnya lepas dari belenggu COVID-19. Sebuah temuan baru mengungkapkan versi virus paling bermutasi ternyata menyerang pasien di Indonesia.

Hal itu dikemukakan Prof Lawrence Young, pakar virologi dari Universitas Warwick. Ia menemukan strain tersebut adalah varian COVID-19 Delta dari seorang pasien dari Jakarta. Mutasi tersebut diduga berasal dari infeksi kronis.

"Virus ini terus mengejutkan kita, dan berpuas diri itu berbahaya. Ini menyoroti masalah 'hidup dengan virus'," ujarnya dikutip dari Daily Mail, Minggu (30/7/2023).

zxc1

Berikut fakta-fakta terkait mutasi virus COVID-19 tersebut.

1. Memiliki 113 Mutasi

Young menjelaskan versi virus yang paling bermutasi di dunia itu ditemukan pada pasien asal Jakarta, Indonesia. Versi virus paling bermutasi itu memiliki 113 mutasi, dengan 37 di antaranya memengaruhi protein spike.

Protein spike itu memungkinkan virus untuk menempel pada manusia sekaligus menjadi target banyak vaksin COVID-19.

2. Punya Mutasi Lebih Banyak dari Omicron
Young menyampaikan dengan 113 mutasi yang berbeda, varian baru itu memiliki jumlah mutasi yang lebih banyak dibanding Omicron yang hanya sekitar 50 mutasi. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan komunitas ilmiah lantaran potensi dampaknya terhadap kekebalan dan kemanjuran vaksin.

Untuk saat ini, belum diketahui apakah varian baru ini dapat menginfeksi orang lain atau tidak.

zxc2

3. Belum Picu Lonjakan Kasus di RI
Menanggapi temuan tersebut, Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan ratusan mutasi itu tidak memicu lonjakan kasus.

"Kalau kita lihat, walau ditemukan tidak terjadi lonjakan kasus," kata dr Nadia.

Senada, Kepala Seksi Surveilans Imunisasi Dinkes DKI dr Ngabila Salama mengatakan belum ada lonjakan kasus di Jakarta yang berkaitan dengan temuan mutasi genome terbanyak tersebut.

"Iya (belum ada lonjakan). Nanti saya update kasusnya," ucapnya.