Menu

TAHUKAH ANDA: Terkait Viral 'Geng Tai', Begini Pesan Psikiater Agar Anak Tak Jadi Perundung

Devi 20 Feb 2024, 16:36
Terkait Viral 'Geng Tai', Begini Pesan Psikiater Agar Anak Tak Jadi Perundung
Terkait Viral 'Geng Tai', Begini Pesan Psikiater Agar Anak Tak Jadi Perundung

RIAU24.COM - Dalam beberapa waktu terakhir, kasus bullying yang terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Serpong, Tangerang Selatan viral di dunia maya. Nama presenter televisi Vincent Rompies juga ikut terseret lantaran anaknya diduga menjadi bagian dari 'Geng Tai' yang melakukan aksi perundungan.

Terlepas dari kejadian tersebut, dokter spesialis kejiwaan dr Alfonsus Edward Saun, SpKJ menyoroti besarnya peran berbagai pihak untuk mencegah aksi bullying khususnya di lingkungan sekolah. Ia menambahkan, bimbingan lebih lanjut perlu dilakukan tidak hanya pada pelaku bullying melainkan juga pada korban.

"Nah, kalau dari orang tua sebenarnya juga perlu ada turut serta orang tua perlu memberikan perhatian dan bantuan serta juga dukungan yang sesuai dibutuhkan oleh anak," ucap dr Edward seperti dilansir dari Berbagai Sumber, di Jakarta Barat, Selasa (20/2/2024).

Ketika kasus bullying terjadi, dr Edward menuturkan pasti ada sesuatu yang tidak optimal. Baik itu dalam pengawasan, aturan, pendidikan, hingga lingkungan anak. Dukungan dari orang-orang terdekat di luar orang tua juga sangat berpengaruh pada anak.

Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi kasus bullying. Beberapa di antaranya adalah insecurity, pendidikan, lingkungan pertemanan, budaya, hingga masalah di dalam keluarga.

Dalam kasus insecurity, pencegahan yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan menanamkan cara berpikir yang lebih baik dan positif pada anak.

"Menanamkan perilaku-perilaku yang bisa membantu mengembangkan diri sehingga dia bisa lebih secure, bisa mengatasi masalah dengan baik. Jadi paling bisa memberikan arahan, contoh, dan pengawasan jangan lupa," katanya.

Pentingnya Pendidikan Empati
Selain itu, dr Edward juga menyoroti pentingnya pendidikan empati pada anak. Menurutnya pendidikan empati harus diberikan pada anak sedini mungkin di awal interaksi orang tua dan anak.

Ia mengatakan pendidikan empati bisa diberikan oleh orang tua melalui contoh-contoh perilaku keseharian. Anak yang masih kecil cenderung sulit untuk diberitahu dapat menyerap ilmu dengan lebih baik melalui contoh yang diperlihatkan.

"Mungkin makin besar dia bisa dikasih tahu mengenai gimana yang baik, gimana yang wajar, gimana yang sesuai, sehingga dengan seiring berjalannya waktu, kemampuan dia makin meningkat. Dia sudah makin terbiasa dengan melakukan empati karena dari awal sudah ditanamkan secara bertahap tadi," tandasnya. ***