Menu

6 Rahasia Umur Panjang Ala Warga 'Blue Zone 2.0', Usianya Sampai 100 Tahun

Devi 29 Mar 2024, 12:07
6 Rahasia Umur Panjang Ala Warga 'Blue Zone 2.0', Usianya Sampai 100 Tahun
6 Rahasia Umur Panjang Ala Warga 'Blue Zone 2.0', Usianya Sampai 100 Tahun

RIAU24.COM - Singapura beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai 'Blue Zone' terbaru di dunia. Blue Zone adalah istilah yang digunakan untuk wilayah yang penduduknya bisa hidup lebih lama dan lebih sehat. Bahkan, tak jarang penduduk kawasan tersebut hidup hingga berusia 100 tahun atau lebih.

Sebelumnya, hanya ada lima wilayah yang disebut sebagai penduduk Blue Zone. Lima kawasan tersebut adalah Okinawa di Jepang, Nicoya di Kosta Rika, Icaria di Yunani, Sardinia di Italia, dan Loma Linda di California.

Berbeda dengan Zona Biru asli yang muncul secara alami, Zona Biru 2.0 muncul sebagai hasil buatan manusia. Peneliti sekaligus pencipta istilah Zona Biru, Dan Buettner mengungkapkan Singapura menjadi Zona Biru 2.0 setelah berhasil merekayasa faktor-faktor yang dapat membuat masyarakatnya hidup lebih lama dan lebih sehat.

"Singapura memiliki angka harapan hidup yang disesuaikan dengan kesehatan tertinggi di dunia. Jadi apapun yang dilakukan Singapura, mereka berupaya menghasilkan kehidupan terpanjang dan tersehat di planet ini," ujar Buettner, dikutip dari CNBC Internasional.

Buettner menjelaskan ada sembilan faktor inti yang mewakili kebiasaan orang-orang paling sehat dan panjang umur di dunia. Sembilan prinsip tersebut yakni aktif bergerak secara alami dalam kehidupan sehari-hari, hidup dengan tujuan yang jelas, mengelola stres dengan baik, makan hingga 80 persen kenyang, mengonsumsi lebih banyak pangan nabati, mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang sedang, menjadi bagian dari komunitas, menjalin hubungan dengan orang terdekat, dan dikelilingi oleh orang-orang dengan kebiasaan sehat.

Sembilan prinsip itulah yang diimplementasikan pemerintah Singapura ke dalam kebijakannya, sehingga mendorong orang-orang di negara tersebut untuk bisa hidup sehat dan berumur panjang.

Berikut adalah beberapa cara Singapura mendorong penduduknya untuk hidup lebih sehat melalui kebijakan yang ada.

1. Berjalan kaki ketimbang berkendara
Sebagian besar warga Singapura memilih berjalan kaki untuk bepergian ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Namun, hal ini cenderung dilakukan karena kebutuhan dan bukan untuk tujuan olahraga.

Buettner menjelaskan pemerintah Singapura mengenakan pajak pada mobil, bensin, dan penggunaan jalan raya, serta meningkatkan fasilitas jalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum.

"Itu bukan sekadar kebetulan, itu perencanaan yang sangat bagus. Sebagai hasilnya, Anda membuat orang-orang keluar dari belakang kemudi dan berdiri," tutur Buettner.

Contohnya, untuk membeli mobil orang Singapura harus terlebih dahulu mendapatkan izin kepemilikan mobil atau sertifikat hak, dan harganya bisa lebih mahal dari mobil itu sendiri.

2. Mendekatkan orang-orang terkasih
Penelitian menunjukkan penduduk di Zona Biru cenderung berkumpul dan dekat dengan orang-orang yang mereka cintai.

Singapura memiliki kebijakan yang dikenal sebagai Proximity Housing Grant yang memberikan insentif finansial kepada masyarakat untuk tinggal bersama atau dekat dengan orang tua dan anak-anak mereka.

"Daripada menampung lansia di panti jompo, seperti yang kita lakukan di Amerika Serikat, para lansia di Singapura tetap terikat dengan keluarga. Mereka sering mendapat perawatan yang lebih baik dari keluarga, sehingga hal ini mendukung harapan hidup para lansia," terang Buettner.

3. Komunitas agama yang kuat
Menjadi bagian dari komunitas berbasis agama memiliki keterkaitan dengan harapan hidup yang lebih panjang.

Hampir 80 persen orang dewasa di Singapura berafiliasi dengan agama. Dalam penelitian yang dia lakukan, Buettner menemukan hampir seluruh masyarakat yang diwawancarai berasal dari komunitas berbasis agama.

"Penelitian menunjukkan bahwa menghadiri kebaktian berbasis agama empat kali sebulan dapat menambah harapan hidup 4-14 tahun," ucapnya.

4. Memilih kebiasaan yang lebih sehat

Buettner mengatakan Singapura telah berhasil membuat makanan sehat lebih murah dan mudah diakses ketimbang junk food. Bahkan, Singapura juga telah menyediakan insentif bagi perusahaan makanan untuk menyediakan pilihan yang lebih sehat.

Tak hanya itu, Singapura juga menerapkan kebijakan yang membatasi kebiasaan tidak sehat, seperti merokok.

"Merokok telah menjadi sulit, tidak menarik, dan mahal. Singapura telah melakukan pekerjaan yang baik dengan tampilan bungkus rokok, dengan gambar-gambar kanker mulut. Mereka adalah salah satu negara pertama yang mengenakan pajak rokok," kata Buettner.

5. Layanan kesehatan yang berkualitas
Warga Singapura menikmati layanan kesehatan yang berkualitas, termasuk di antaranya layanan untuk pencegahan, pengobatan, rehabilitasi, dan perawatan paliatif. Pemerintah Singapura juga telah berupaya menciptakan kebijakan yang mensubsidi biaya layanan kesehatan.

"Agenda Lee Kuan Yew (mantan perdana menteri Singapura) dan rekan-rekannya berbeda. Mereka berusaha memastikan masyarakat tetap sehat, bukan mencari uang dari masyarakat," ujar Buettner.

6. Hukum yang ketat
Singapura terkenal dengan aturan hukumnya yang ketat. Misalnya, larangan mengunyah permen karet atau denda besar saat makan di transportasi umum.

Singapura juga memiliki aturan yang ketat terkait senjata dan narkoba. Orang yang melanggar aturan tersebut dapat dikenai hukuman penjara, cambuk, hingga hukuman mati.

"Jika menyangkut angka harapan hidup, fakta bahwa senjata api ilegal di Singapura adalah kebijakan yang sangat cerdas. Di AS, 55 ribu orang meninggal akibat senjata api setiap tahun. Sementara di Singapura hanya sekitar tiga orang," pungkas Buettner. ***