Menu

Tegas, UAS Sebut Penghina dan Penista Nabi Muhammad Adalah Orang Dungu

Riko 30 Oct 2020, 14:29
Ustaz Abdul Somad ( net)
Ustaz Abdul Somad ( net)

RIAU24.COM - Ustadz Abdul Somad atau UAS turut mengomentari pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggapnya sudah melecehkan umat Islam dan Nabi Muhammad SAW.

UAS, sapaan akrab Ustaz Abdul Somad, mengunggah tulisan dari Journal Alazhar dalam merespons isu tentang penghinaan Islam ini. Melalui akun Instagram, ulama lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini menuliskan keterangan foto dengan judul “Al Azhar Tegas Tolak Negoisasi Prancis.”

UAS menuliskan, Dubes Perancis memohon kepada Grand Syaikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayib agar membantunya untuk menghentikan gelombang boikot produk-produk Prancis. Namun permintaan beliau tersebut ditolak.

Syaikh Ahmad Thayib mengatakan, "Kami tidak menerima negoisasi terkait kasus penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Macron harus segera meminta maaf."

“Kata Syaikh Ali Jumah, ‘Orang yang menggambar dan menistakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang dungu, anaknya orang dungu dan orang tuanya telah gagal mendidiknya’,” kata UAS, dikutip dari Okezone. Kamis 28 Oktober 2020.

Macron panen kecaman setelah menyerang Islam terkait pidatonya saat pemakaman guru sejarah di Prancis. Guru tersebut meninggal dibunuh remaja 18 tahun.

Saat itu Macron menekankan Prancis tak akan menyerah soal kartun, mengindikasikan negara itu tidak akan melarang penerbitan kartun Nabi Muhammad, langkah yang memicu amarah umat Islam di seluruh dunia.

Macron juga menyebut Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Ucapan presiden yang menikahi perempuan tua itu pun memicu gelombang protes.

Sejumlah negara muslim mengecam politikus LREM tersebut. Beberapa negara Arab, seperti Qatar, Kuwait, Yordania, mendesak warganya memboikot produk Prancis. Bahkan, warga Arab Saudi turut meramaikan media sosial (medsos) untuk tidak membeli produk Prancis. Begitu pula Turki yang mengecam keras dan menyerukan pula boikot.