Ibarat Membawa Air di Dalam Ember Bocor, 3 Tindakan Ini Ternyata Mengurangi Pahala Saat Berpuasa

Minggu, 18 April 2021 | 14:39 WIB
Foto : Mstar Foto : Mstar

RIAU24.COM -  Sudah menjadi hal yang wajar bahwa perbuatan baik yang dilakukan pasti akan mendapatkan pahala dari Tuhan. Sebagai seseorang yang berpuasa pasti mengharapkan pahala. Banyak diantara kita mengetahui hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum di siang hari, bersama istri saat puasa dan lain-lain.

Selain itu, perlu kita ketahui bahwa ada beberapa hal yang dapat mengurangi pahala puasa tetapi tidak sampai membatalkan puasa.

Betapa rugi mereka yang berpuasa tapi tidak mendapat pahala seperti mereka yang membawa air di ember yang bocor.

Nabi (saw) bersabda: Mungkin orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan mungkin orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa pun dari qiyamnya kecuali tinggal. bangun di malam hari. [HR Ibn Majah 1690]

Diantara hal-hal yang dapat menyebabkan pahala puasa menurun adalah;

Baca Juga: Cara Membuat Tahu Pong Khas Semarang

1. Tidak menjaga lisan
Menjaga lisan adalah tindakan yang sangat penting dalam Islam. Salah satu bentuk lisan menjaga adalah dengan menghindari kata-kata yang tidak baik dan tidak membantu. Selain dapat menghindari pengurangan pahala, juga dapat menghindarkan diri dari melakukan dosa dan melukai hati orang-orang di sekitarnya.

Nabi (damai dan berkah Allah besertanya) bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata keji (kebohongan) dan mengamalkannya, maka Allah tidak bermaksud orang itu untuk meninggalkan makan dan minum ”. [HR Bukhari 1770]

Dengan hadirnya ramadhan yang agung, seharusnya membuat kita mukmin yang baik menggunakan lidah untuk berdzikir, mengaji dan mengucapkan kata-kata yang baik. Nabi (damai dan berkah dari Allaah besertanya) bersabda: Barangsiapa yang percaya pada Allah dan Hari Akhir, maka dia harus mengatakan apa yang baik atau tetap diam. [HR Bukhari 6475]

Imam Nawawi menjelaskan tentang hadits ini saat menjelaskan hadits-hadits Arba'in. Dikatakannya, Imam Syafie menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah ketika seseorang ingin bersabda ia harus berpikir terlebih dahulu. Jika dirasa perkataannya tidak mencelakakan, maka ia diperbolehkan berbicara. Namun, jika dirasa perkataannya akan merugikan atau ia ragu apakah akan merugikan atau tidak, maka ia tidak boleh berbicara.

2. Jangan membantah
Persaudaraan adalah ikatan yang diikat Allah SWT antar orang beriman. Jika kita menemukan seseorang baik dari timur atau barat yang beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, akhirat maka dia adalah saudara bagi orang-orang beriman. Selain itu, persaudaraan ini mewajibkan orang beriman untuk mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai diri sendiri atau sebaliknya.

Nabi bersabda: Puasa adalah tameng. Ketika salah satu dari Anda berpuasa, maka jangan biarkan dia mengucapkan kata-kata kotor dan berteriak. Jika ada yang mengutuk atau melawan dia, maka biarkan dia berkata: Saya berpuasa. [HR Bukhari 1904].

Kemarahan adalah salah satu penyebab masalah yang lebih besar dalam kehidupan bermasyarakat. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan amarahnya, perkelahian besar bisa terjadi dan bahkan tidak mungkin menyebabkan pertumpahan darah. Oleh karena itu, ketika seseorang berpuasa maka kita harus berusaha mengendalikan diri dengan mengatakan “Sungguh saya berpuasa”.

Baca Juga: Belajar Dari Malaysia, Jangan Pergi Ke Pusat Vaksinasi Jika Anda Memiliki Salah Satu Dari 3 Kondisi Ini

3. Berbohong
Berbohong saat berpuasa membuat dosanya semakin parah. Ini karena, dosa dan pahala seseorang dapat berbeda-beda dalam tingkat pahala dan hukumannya sesuai dengan faktor-faktor yang berbeda seperti di mana itu dilakukan dan juga kapan itu dilakukan. Oleh karena itu, berbuat dosa seperti berbohong di bulan Ramadhan, apalagi saat berpuasa, membuatnya semakin berat di hadapan Tuhan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah S.A.W bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan salah dan beramal dusta, maka Allah tidak bermaksud amalannya meninggalkan makan dan minum. [HR Bukhari 1903]

Berdasarkan hadits di atas, para ulama memberikan tafsir yang berbeda-beda tentang makna sebenarnya dari pernyataan Nabi. Bagian dari ceramah berarti siapa pun yang berbohong tentang puasanya tidak diterima oleh Allah. Sedangkan sebagian yang lain menyatakan bahwa makna hadits tersebut bahwa siapa yang berdusta akan menyebabkan pahala puasanya berkurang.

Imam al-Subki, di sisi lain, menyatakan bahwa hadits ini memperingatkan kita tentang dua hal: Pertama, ada lebih banyak keburukan dan kekejian bagi orang yang berbohong saat berpuasa daripada di luar puasa. Kedua, seseorang harus berjuang untuk menyelamatkan puasanya dari kebohongan.

Sungguh kerugian seseorang yang bekerja keras dalam berpuasa tetapi pada akhirnya hanya lapar dan haus. Ini semua adalah geladak karena di bulan puasa mereka masih melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah padahal setan sudah dikurung dan pintu surga dibuka lebar sedangkan pintu neraka ditutup rapat.

Oleh karena itu, dengan hadirnya bulan Ramadhan, segeralah perbaiki diri dan bersiaplah dengan persiapan yang nyata agar tidak menyesal di kemudian hari. Selamat datang di bulan Ramadhan, bulan yang penuh kesenangan dan cinta.

PenulisR24/dev


Loading...
Loading...