Menu

5 Tradisi Unik Masyarakat Indonesia Rayakan Idul Adha

Zuratul 10 Jul 2022, 05:06
Tradisi Manten Sapi di Pasuruan/kumparan.com
Tradisi Manten Sapi di Pasuruan/kumparan.com

RIAU24.COM - Setiap tahunnya umat Islam di Indonesia akan memperingati Hari Raya Idul Adha.

Selain menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada orang tak mampu, umat Islam dari berbagai daerah Indonesia juga menggelar sejumlah tradisi secara turun temurun.

Berikut diutip dari kompas.com rangkum daftar tradisi Idul Adha yang dilakukan oleh umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia.

1.      Tradisi Apitan di Semarang

Semarang, Jawa Tengah, memiliki tradisi Apitan saat Hari Raya Idul Adha. Tradisi tersebut dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur atas rezeki berupa hasil bumi yang diberikan oleh Tuhan, dikutip dari laman Pariwisata Indonesia, Senin (27/6/2022).

Tradisi ini diawali dengan pembacaan doa, dilanjutkan dengan arak-arakan hasil tani hingga ternak (gunungan). Sepanjang jalan, warga sekitar akan saling berebut gunungan. 

Warga setempat percaya bahwa tradisi ini dulunya merupakan kebiasaan para Wali Songo, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur saat perayaan Idul Adha. Bukan hanya arak-arakan saja yang bisa disaksikan, tapi juga bisa melihat hiburan tradisional khas Semarang.

2.      Tradisi Manten Sapi di Pasuruan

Berikutnya ada Manten Sapi, sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Pasuruan, Jawa Timur, saat Hari Raya Idul Adha. Umat Islam di Pasuruan menggelar tradisi ini sebagai penghormatan terhadap hewan kurban yang akan disembelih.

Uniknya, sebelum disembelih, hewan kurban akan dirias seperti pengantin. Selain dirias, hewan-hewan tersebut juga dikalungkan bunga tujuh rupa dan dibalut dengan kain kafan, serban, serta sajadah.

Kain kafan sendiri punya makna kesucian orang yang berkurban. Hewan kurban yang sudah dirias, kemudian diarak menuju masjid setempat untuk disembelih dan dagingnya diolah jadi hidangan untuk disantap bersama.

3.      Tradisi Gerebeg Gunung di Yogyakarta

Dalam memperingati Hari Raya Idul Adha, umat Islam di Yogyakarta akan menggelar tradisi Grebeg Gunungan. Mirip seperti tradisi yang dilakukan masyarakat Semarang, masyarakat Yogyakarta juga mengarak hasil bumi dari halaman Keraton sampai Masjid Gede Kauman.

Ada tiga gunungan yang diarak, terdiri dari rangkaian sayur-mayur dan buah. Tak hanya saat Idul Adha, di Yogyakarta tradisi ini juga digelar setiap hari besar agama Islam lainnya.

Misalnya saja saat Idul Fitri ada acara Grebeg Syawal. Menurut kepercayaan setempat, bagi yang berhasil mengambil hasil bumi dari gunungan tersebut, bisa mendatangkan rezeki.

4.      Tradisi Meugang di Aceh

 Aceh punya tradisi Meugang saat Hari Raya Idul Adha, yang sudah ada sejak zaman kerajaan dan masih terus dilakukan hingga sekarang. Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban seperti kambing atau sapi yang dilakukan saat bulan Ramadhan, Idul Adha, dan Idul Fitri.

Daging yang disembelih itu nantinya akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Tradisi ini digelar sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran tanah Aceh. Selain membagikan daging secara gratis, umat Islam di Aceh juga akan mengolah daging yang ada menjadi hidangan untuk dimakan bersama keluarga.

5.      Tradisi Lawa Pipi di Uli Halawang, Maluku Tengah

Pada perayaan Idul Adha, umat Islam di Uli Halawang, Maluku Tengah, akan menggelar tradisi Lawa Pipi atau arak-arakan hewan kurban.  Kata Lawa Pipi berasal dari bahasa Hila.

Terdiri dari dua kata, ‘Lawa’ yang artinya lari dan ‘Pipi’ punya makna kambing. Lawa Pipi dilakukan sehari setelah shalat Idul Adha. Dilansir dari laman Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, kambing yang boleh dipakai biasanya berumur di atas dua tahun dan tidak cacat.

Kambing yang terpilih punya sebutan Tema. Sebelum disembelih, kambing tersebut akan dibawa ke halaman Rumah Raja Oolong dan didoakan bersama-sama. Setelah itu, diarak keliling kampung.

Hewan-hewan itu kemudian akan diajak berlari mengelilingi Masjid Adat Hasan Sulaiman sebanyak tujuh kali menyerupai Tawaf. Pada akhirnya, hewan tersebut dipotong dan orang-orang akan melemparkan uang, baik uang kertas maupun koin, ke area pemotongan. Tradisi ini dipercaya warga setempat sebagai tindakan buang sial.