Menu

Peringati Hari Santri, Kapolda Riau Rela Basah Pakaian Dengan Ribuan Santri di Bengkalis

Dahari 23 Oct 2020, 03:00
Kapolda Riau Irjen pol Agung Imam Efendi saat menghadiri hari santri
Kapolda Riau Irjen pol Agung Imam Efendi saat menghadiri hari santri

RIAU24.COM - BENGKALIS - Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, kagum dan bangga, usai menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2020, Kamis 22 Oktober 2020 kemarin. Saat itu dia langsung mendatangi seorang santri yang berperawakan kecil. 

Dalam hujan rintik yang mengguyur sejak subuh dengan baju sudah basah tak menyurutkan semangat ribuan santri Pondok Pesantren Modern Nurul Hidayah, Bantan, Bengkalis yang tetap berada di lapangan bersama Kapolda Riau.

"Sudah hafal Alquran?," tanya Kapolda Irjen Pol Agung Setya. "Sudah Pak," jawab santri tersebut. "Coba lantunkan ayat-ayat pendek kamu hafal, nak,"ucap Kapolda lagi.

Santri tersebut kemudian dengan lantangnya melantunkan satu ayat di dalam Juz Amma atau Juz 30 Alquran secara fasih tanpa ada kesalahan da  tidak ada grogi saat melantunkan hafalan tersebut di depan pimpinan pondok, Penjabat Bupati Bengkalis Syahrial Abdi, hingga puluhan orang yang mengelilinginya. 

Usai bacaan tersebut dilantunkan, Irjen Pol Agung Setya kemudian bertanya. "Cita-citamu Nak, mau jadi apa," tanya Kapolda. "Mau jadi dosen Pak," kata santri itu. "Wah Pak Kiai, anak kita ini mau jadi dosen. Mulia sekali,"ujar Irjen Pol Agung lagi. 

Kapolda Irjen Pol Agung kemudian langsung menggendong santri tersebut di depan banyak orang. Sebelum berpisah, santri ini menyalami Kapolda dengan mencium tangannya, hormat kepada orangtua. "Saya jadi ingat hafalan anak saya,"ungkapnya lagi.

Ketika memimpin Inspektur Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2020 di pulau terluar Indonesia, Bengkalis, Kapolda Irjen Pol Agung Setya mengatakan, hujan rintik yang turun merupakan rahmat Allah tidak habis-habisnya. 

"Saya sebenarnya terganggu dengan tenda ini. Saya ingin merasakan, apa yang dirasakan bersama-sama dengan adek-adek, anak-anak saya, santri. Saya ingin merasakan rahmat Allah SWT ini,"ucapnya.

Agung menjelaskan, santri bukanlah orang-orang yang termarjinalkan, atau terbelakang. Keputusan anak-anak dan adek-adek, tutur Kapolda Riau, menjadi santri adalah keputusan benar. 

"Orangtua mengajak dan mengarahkan kita untuk mondok di sini, merupakan yang benar. Negara yang besar adalah negara disiplin, seperti sekarang ini, di depan saya ini. Disiplin semuanya,"ujar Agung. 

Dituturkan jenderal bintang dua ini, anak santri yang menuntut ilmu di pondok adalah dibekali untuk masa depan. Tidak ada seseorang sukses tanpa dibekali, atau diwarisi orangtuanya. Melainkan, dibekali ilmu sejak dini. 

Penempaan saat dibekali seperti hari-hari ini, kata mantan Kapolres Bengkulu itu, menyakitkan. Namun, sejatinya akan dipetik di masa-masa akan depan. Kelak, harap Agung, 25 tahun lagi, para santri, adek-adek semua bisa seperti saya, bahkan melebihi orangtua-orangtua kini menjabat. 

"Dalami ilmu di sini sebanyak-banyaknya, jadikan itu bekal di masa datang. Belajar dari guru-guru dan teman teman yang ada di sekitar kita. Nilai-nilai yang ada di pondok pesantren adalah nilai-nilai dipastikan kelak berguna sebagai generasi penerus bangsa ini," pesan Kapolda Riau lagi.