Menu

Cacatan Akhir Tahun, Selamat Datang Tahun Para Milenial

Ahmad Yuliar 31 Dec 2019, 17:17
Ilustrasi
Ilustrasi

RIAU24.COM -  SELAMAT jalan tahun 2019! dan selamat datang tahun 2020, tahun dimana para milenial mendapat giliran untuk memegang posisi strategis dan penting dalam kehidupan saat ini. Betapa tidak! di tahun ini para milenial mencapai usia puncak dari segi fisik dan pemikiran.

Para ahli mengelompokkan milenial atau generasi Y adalah mereka yang lahir tahun 1980 hingga awal 2000-an. Jika dihitung usia generasi ini sekarang pada kisaran 17-37 tahun, suatu rentang usia yang produktif dan menanjak.

Jika generasi ini akrab dengan teknologi informasi, sudah tentu ada nilai plus minusnya dalam pembangunan bangsa. Dengan kecenderungan ini, persaingan akan semakin tinggi dan kebijakan-kebijakan akan semakin terbuka.

Untuk itulah kita perlu meneropong sejauh mana peluang generasi milenial di tahun 2020 dan tantangan apa yang bakal mereka hadapi.

Peluang pertama tentu saja dari segi politik dimana tahun 2020 merupakan tahun politik tingkat daerah terbesar di tanah air. Ada 270 pemilihan kepala daerah dengan rincian 9 pemilihan gubernur, 224 kabupaten dan 37 pemilihan walikota.

Menariknya, jumlah pemilih kelompok milenial merupakan yang terbesar. Di Kabupaten Kepulauan Meranti sendiri, jumlah penduduk usia 15-39 tahun mencapai 89.562 jiwa dari total 208.118 jiwa penduduk. Jumlah ini berarti hampir 45 persen adalah milenial yang merupakan usia produktif.

Dengan banyaknya usia produktif, logikanya suatu daerah lebih maju. Hal ini tentu terjadi, bila mereka yang usia produktif tadi benar-benar produktif dengan berperan maksimal di berbagai bidang pembangunan.

Nah, tahun 2019 kita sudah dapat menyaksikan banyak figur milenial yang tampil meramaikan bursa bakal calon kepala daerah. Hanya waktu yang akan menjawab bagaimana ending dari proses politik yang berjalan baik di level partai maupun secara independen.

Jika ada yang menyoal kemampuan kalangan milenial yang tampil tersebut, rasanya tidak relevan lagi. Saat ini, beberapa figur milenial sudah membuktikan diri mampu memberikan warna berbeda dalam politik dan pemerintahan. Inovasi dan cara fikir kreatif inilah merupakan terobosan yang dinanti-nantikan masyarakat dari para milenial. Sebagai contoh kalangan milenial yang eksistensinya diapresiasi luas adalah Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak. 

Presiden Jokowi pun tampak sudah mulai "mendidik" para milenial ini dengan memberikan jabatan-jabatan penting di pemerintahannya terutama posisi staf khusus. Sepertinya Jokowi menyadari pentingnya membangun proses transisi kepemimpinan antargenerasi supaya transisi kekuasaan ke depan berjalan lebih damai, demokratis dan smart dimana banyaknya tokoh-tokoh muda yang sudah teruji dan dapat jadi referensi masyarakat pemilih.

Peluang untuk membuktikan diri inilah perlu ditangkap para milenial. Sebab jika tidak mau menguji diri dalam praktek kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara, bukan mustahil pada pesta politik nanti kita akan sangat minim menyaksikan para milenial tampil berani dan memberi alternatif pilihan bagi masyarakat. Ini tentu fenomena yang tidak positif untuk bangsa ke depan karena semakin kecil figur pilihan, semakin kecil ruang demokrasi bermain, sebaliknya semakan lebar ruang konflik dan perpecahan muncul.

Inilah tantangan paling besar para milenial saat ini, berani untuk tampil dan membuktikan diri dalam kepemimpinan masyarakat. Dan inti dari tantangan itu adalah sejauh mana karakter dan mental generasi milenial sekarang dalam menyambut transisi kepemimpinan secara nasional sebagai harapan kehidupan berbangsa kelak.

Dengan segala atribut yang melekat padanya, milenial perlu menjadi aktor utama dalam perubahan sosial politik saat ini. Hal ini penting dalam rangka perubahan global yang sedang terjadi. Pemimpin milenial diharapkan mampu menyederhanakan proses namun memaksimalkan hasil.

Terlebih pada saat pragmatisme yang meluas saat ini, milenial perlu tampil dengan pemikiran jernih, mampu menjelaskan konsep secara sederhana ke publik namun substantif. Seperti dikatakan Einsten; If you can't explain it simply, you don't understand it well enough (Jika anda tidak mampu menjelaskan secara sederhana, berarti anda tidak mengerti dengan baik hal tersebut). 

Jika tidak, bukan tidak mungkin gejala yang paling dikhawatirkan terhadap milenial semakin meluas. Yakni, gejala kurang peduli pada situasi sosial, politik dan ekonomi di sekitarnya. Dengan keakraban pada teknologi, malah membuat milenial terjebak pada hedonisme dan kebebasan hidup serta menghendaki hal-hal yang instant. Tentu ini sangat kontraproduktif dengan keinginan luhur bangsa yang mengharapkan generasi muda tampil sebagai pemimpin penuh idealisme, berkarakter mulia dan bermental baja. Semoga tahun 2020 tahun akan membuat milenial makin berSERI dan memberi jalan semakin banyak berkiprah dan dipercayai oleh masyarakat. Insha Allah!***

Oleh : Hery Saputra, SH

Penulis menjabat Kabag Humas dan Protokol Pemkab Kepulauan Meranti, Bakal Calon Wakil Bupati dari Kalangan Milenial.